Penyu Bertelur di Pulau Derawan

Penyu Bertelur di Pulau Derawan

 

idedigitl.my.id-Sejumlah jurnalis yang mengikuti program kunjungan jurnalistik yang tiba di Pulau Derawan menyaksikan Penyu Bertelur di Pulau Derawan Selasa sore (4/7),  langsung melakukan liputan terkait kehidupan warga dan berbagai hal menarik di kawasan yang luasnya mencapai 13,74 kilometer persegi itu.

Sejumlah wartawan yang ikut dalam program promosi Sail Derawan 2013 itu, yakni Suriatman dari Trans7, Amir Hamzah (Indosiar), Aspar (TVRI), Selamet Widodo (Kompas TV), Adi Prasetya (Kompas) dan Rahmat dari LKBN Antara.

Selain itu turut pula Reporter RRI Samarinda, Rusniansyah,  Rusli dari Harian Jurnal Nasional, Fauzan Ramadhan (Kaltim Post)  dan Siti Munawaroh dari Harian Bisnis Indonesia.  Mereka berupaya mencari masukan sebanyak mungkin untuk bahan tulisan menarik guna mempromosikan keunggulan Gugusan Kepulauan Derawan sebagai lokasi layak untuk Sail Derawan.

Setelah puas melakukan liputan lapangan, sejumlah wartawan berharap akan ada keberuntungan, yakni  bisa menyaksikan penyu hijau (Chelonia mydhas) bertelur di kawasan Pantai Derawan.

“Saya berharap ada penyu yang naik malam ini untuk bahan liputan lebih baik,” kata Aspar dari TVRI Kaltim.

Harapan yang sama juga disampaikan sejumlah wartawan dan jajaran Biro Humas dan Protokol yang ikut dalam program tersebut. Harus diakui melihat penyu bertelur merupakan peristiwa langka dan menjadi momen luar biasa bagi para pengunjung.

Tidak heran jika, kehadiran penyu yang bertelur di kawasan Pantai Derawan merupakan harapan sejumlah pengunjung di kawasan tersebut, sekaligus dimanfaatkan untuk mengabadikan peristiwa langka itu.

Setelah menunggu culup lama, apa yang diharapkan menjadi kenyataan, seiring pemberitahuan dari petugas Protokol Kabupaten Berau, Djainudin  yang turut dalam kegiatan tersebut yang mengatakan ada dua ekor penyu yang naik untuk bertelur.

 

Sayangnya kedatangan rombongan wartawan ke lokasi penyu bertelur agak terlambat sehingga penyu yang dimaksud sudah menyelesaikan tugasnya dan telah kembali ke permukaan laut.

Namun, kekecewaan sejumlah personil jurnalis itu terbayar dengan kehadiran penyu lain yang juga bertelur, meskipun lokasinya cukup sulit untuk mengambil gambar, yakni berada di bawah  bangunan penduduk dan penyu juga sudah selesai bertelur dan sedang menutup ratusan telur yang dihasilkan.

Walau sulit, momen itu tidak disia-siakan para wartawan dan sejumlah pengunjung yang datang untuk menyaksikan, sekaligus mengabadikan proses reproduksi hewan yang dilindungi itu.

Usai menyaksikan penyu bertelur di bawah rumah penduduk itu, kabar gembira datang lagi, karena ada penyu yang sedang menuju pantai untuk bertelur yang jaraknya sekitar 200 meter dari lokasi pertama.

Walaupun waktu sudah menunjukan pukul 00.30 Wita, namun semangat untuk menyaksikan penyu bertelur tidak luntur,  termasuk para pengunjung yang setia menunggu proses reproduksi itu.

Sementara itu, sang penyu nampak merambat naik ke atas pantai, mencari lokasi aman untuk bertelur dengan mengibaskan siripnya membuat lubang sebagai tempat telur. Namun setelah 30 menit mengais pasir tenyata lokasi pertama kurang baik karena banyak akar pohon.

Sang penyu yang beratnya sekitar 100 kilogram itu kemudian beralih sekitar dua meter dari tempat semula dan selanjutnya mulai mengaiskan sirip untuk membuat lubang baru, setelah sekitar satu jam mengais hal serupa dialami sehingga dengan tenang penyu itu harus kembali mencari lokasi baru.

Ketika sejumlah pengunjung dan wartawan menunggu dengan sabar, nampak penyu mencari lokasi baru di sekitar lokasi kedua dan selanjutnya membuat lubang ketiga. Sementara, sejumlah pengunjung mulai gelisah karena sudah sekitar dua jam menunggu, namun apa yang diharap belum juga jadi kenyataan.

Namun petugas dari World Wide Found (WWF), Syamsudin minta agar para pengunjung bersabar dan tidak menimbulkan suara gaduh karena khawatir penyu mengurungkan niatnya bertelur dan kembali ke laut.

Waktu sudah menunjukan pukul 02.30 Wita, namun penyu belum menampakan tanda-tanda bertelur karena masih mengais-ngaiskan siripnya untuk membuat lubang. Setelah satu jam berselang apa yang dikhawatirkan jadi kenyataan, penyu berhenti mengais dan berjalan menuju ke laut.

Walau kecewa namun, para wartawan dan pengunjung tetap bisa mengabadikan penyu yang sedang berjalan perlahan menuju laut.

“Penyu ini membatalkan niatnya untuk bertelur dan kembali ke laut karena belum  menemukan tempat yang cocok untuk menyimpan telurnya,” kata Syamsuddin.

Menurut Syamsudin,  dia bersama tiga kawan lainnya bertugas mengumpulkan dan menetaskan telur penyu di kawasan Derawan. Dia mengatakan pada periode April hingga September setiap tahun memang musim penyu bertelur sehingga banyak penyu yang naik ke pantai.

Sejumlah telur penyu yang menetas akan dilepas kembali ke laut setelah berumur sekitar seminggu. Pelepasan anak penyu (tukik) biasa dilakukan malam hari untuk menghindari pemangsa, salah satunya adalah burung  yang biasa menjadikan tukik sebagai santapan.

Tukik yang dilepas secara alami, kondisinya lemah sehingga sangat mudah dimangsa predator pengganggu, tidak heran jika diperkirakan dari 1.000 tukik yang kembali ke alam, hanya sekitar satu atau dua ekor yang bisa selamat dan hidup hingga menjadi penyu dewasa.

Kondisi itulah, Penyu Hijau dan sejumlah penyu jenis lainnya merupakan satwa dilindungi untuk mempertahankan populasi dan keberadaan penyu sehingga terus menjadi salah satu daya tarik kepariwisataan di Gugusan Kepulauan Derawan dan sekitarnya